MIMBAR PUISI! BERANI, PEMUDA INI BERANI BETUL, INGATKAN PENGUASA AGAR BERJALAN LURUS DAN TIDAK TAKUT-TAKUTI RAKYAT
MIMBAR PUISI! BERANI, PEMUDA INI BERANI BETUL, INGATKAN PENGUASA AGAR BERJALAN LURUS DAN TIDAK TAKUT-TAKUTI RAKYAT
Tulisan dan suara dari karya puisi pemuda ini sungguh berani dan berapi-api.
Berkesan bagai sebuah ancaman, tapi sesungguhnya bukan.
Ia hanya secara tegas mengingatkan sejak dini agar Penguasa tidak zalim
Bagaimana Puisi anak muda yang bernama Pena A. Effendy itu?
ini dia
II. KEBERANIAN — KETIKA RAKYAT BERHENTI TAKUT
Jangan kira rakyat selalu lemah
hanya karena mereka memilih diam.
Diam bukan berarti tunduk.
Kadang diam adalah
napas panjang sebelum keberanian
menemukan bentuknya.
Akan tiba waktunya
ketika suara yang selama ini dipendam
tidak lagi meminta izin
kepada kekuasaan untuk terdengar.
Akan tiba waktunya
ketika orang-orang kecil
berdiri di depan gedung-gedung besar
dan bertanya:
“Untuk siapa sebenarnya
kekuasaan ini bekerja?”
Ketika itu terjadi,
jangan salahkan rakyat
karena mereka mulai bersuara.
Salahkan kesombonganmu
yang terlalu lama mengira
mereka tidak punya suara.
Keberanian tidak selalu datang
dengan bendera dan pengeras suara.
Kadang ia datang
dalam bentuk seorang ibu
yang menolak anaknya
diperlakukan tidak adil.
Dalam bentuk seorang guru
yang menolak dibungkam.
Dalam bentuk seorang wartawan
yang tetap menulis
meski teleponnya dipenuhi ancaman.
Dalam bentuk seorang pegawai
yang berkata:
“Saya tidak mau ikut.”
Dan dalam bentuk manusia biasa
yang memilih kehilangan kenyamanan
daripada kehilangan harga diri.
Kekuasaan boleh memiliki gedung.
Boleh memiliki kendaraan.
Boleh memiliki protokol.
Boleh memiliki pengawal.
Tetapi jangan pernah lupa:
kebenaran tidak membutuhkan pengawalan.
Ia hanya membutuhkan
satu manusia yang berani
mengucapkannya.
Dan dari satu suara
yang tidak mau tunduk,
sejarah sering kali
memulai perubahan.
.jpg)