CERITA BERSAMBUNG! MISTERI GITAR DI UJUNG KAMAR
CERITA BERSAMBUNG! MISTERI GITAR DI UJUNG KAMAR
( Abrar Effendi)
Bagian 1
Kampung Para Begundal
Sejumlah lelaki berkerumun di sudut jalan masuk ke kampung itu. Ada yang berdiri setengah miring, ada yang berjongkok sambil menengadah ke langit dengan tatapan kosong, ada pula yang sibuk berbicara penuh ekspresi, sebentar seperti marah sebentar senyum-senyum bangga. Sementara yang diajak berbicara tak kalah ekspresi, mengiyakan apa kata si pembicara yang sepertinya paling punya pengaruh di antara mereka. Badannya ceking tapi tinggi dan nampak keras. Rompi jeans yang dipakainya nampak kedodoran, tapi dia percaya diri. Kaca mata hitam nangkring di atas kepalanya yang berambut jabrik.
" Kalau tidak kasihan sama bapak dia, sudah kugilas habis si Arul itu, berani betul dia mau tidak setor ke aku jualan di sini, " sungutnya. Sementara lawan bicaranya manggut-manggut dengan wajah serupa, menunjukan rasa jengkel.
Tipe muka pengikut yang tak mau banyak pikir, asal orang yang di atasnya senang padanya, apa pun perkataannya dan gayanya bakal diikuti.
" Iya Bang, sudah mau kuinjak muka dia tadi rasanya, tapi tak tega aku, " ujar seorang lain berbaju hitam lusuh dengan robek di bagian bahu kirinya. Rambutnya gondrong sebahu dan ikal. Perutnya gendut sehingga nampak makin gempal melebar. " Betul Bang, gatal betul aku tadi sebetulnya, " ujarnya lagi seperti berusaha meyakinkan. Mendengar kalimatnya itu beberapa pria lain yang mendengar merenges, senyum antara meremehkan dan tidak percaya.
" Aaapaa??!! muka kalian kaya gitu.. aku betul emosi tadi, mau bikin masalah sama aku kalian ni? " ujarnya sambil memutar pandangan pada beberapa orang itu. Suasana sedikit naik.
" Ah, sudahlah Ndut... jangan bikin riuh sesama kita kau, " Si Rompi Jeans menegurnya yang langsung dipatuhi walau dengan gaya muka merengut dan sebuah hembusan nafas kuat.
" Hfff... lain kali pasti kuinjak, betul Bang, biar mereka ni tau siapa aku juga, " ujarnya sambil berjongkok dan menarik lengan bajunya sampai ke bahu.
Sementara para lelaki lain itu senyum mereka semakin lebar dan ada yang nyeletuk pelan, " sak cangkemmu lah.. hehehe, dah ini diminum dulu biar makin lancar nyangkemnya hahaaa ," ujar satu pria berjaket kulit yang sudah hilang beberapa kancingnya. Penampilannya seperti rocker, dengan sepatu sintetis kulit.
" Ayo, kita nagih ke warung bakso Tarno, " ujar si Rompi Jeans sambil berjalan dan langsung diikuti kawanannya. Menebar teror di kampung yang dikenal dengan predikat Kampung Para Begundal itu. Lantaran banyaknya peminum alkohol, pemabuk obat daftar G bahkan penghirup aroma lem.
Korban mereka adalah pedagang-pedagang kecil yang kerap diminta duit keamanan.
( Bersambung)
.
.jpg)