AIR MATA DI UJUNG BENDERA, SASTRA MENYOROTI LEMAHNYA PEREKONOMIAN RAKYAT, PUISI GUSTI INDRA SETIAWAN


 



Tabalong, Kalsel


Jalannya pembangunan di Indonesia menjadi perhatian berbagai kalangan termasuk para seniman dan budayawan.

Tentu saja dari masa ke masa, hal ini jadi daya tarik ide dan keprihatinan mereka.

Lantaran masih banyaknya ketimpangan pembangunan dan riskan bahkan rendahnya kesejahteraan masyarakat.

Gusti Indra Setiawan, satu di antara Sastrawan terkemuka di Kalimantan Selatan juga menyoroti ini.

Puisi penuh makna ia tulis membaca keresahan masyarakat seiring perekonomian tingkat rakyat yang goyah akibat mahalnya hargaharga bahan pokok sementara penghasilan tak banyak berdaya.

Apa puisinya ? Ini dia

Gusti Indra Setyawan

AIR MATA DI UJUNG BENDERA


Merah putihku berkibar di langit pagi

membelah angin dengan gagah berani

namun di bawah tiangnya yang tinggi

masih ada mata yang basah menanti

menyimpan doa dalam sunyi


Di sudut pasar ibu menggenggam harapan 

dengan keranjang kosongnya menjadi saksi gelap

harga-harga kini menjulang tanpa iba

sementara senyum dipaksa tetap ada

agar anak-anak tak belajar putus asa


Di pematang sawah 

petani mulai menunduk

keringatnya jatuh ke tanah 

kulitnya legam tanpa baju

apalagi hasil panen tak selalu menjamin sejahtera untuk hidup mereka

kemarau mulai melanda 

tak ada tawa dan canda lagi

sebab jerih sering kalah oleh keadaan

dan mimpi terus dipikul hingga senja datang


Begitu pula anak-anak menatap langit sekolah

mereka berharap dalam setiap langkah

mereka membawa cita yang tak pernah menyerah

meskipun sepatu telah usang dimakan jalan

baju putih terlihat lusuh ditelan waktu

mereka percaya masa depan akan datang

jika keadilan tak hanya menjadi wacana belaka

Maka berkibarlah wahai bendera negeriku

jangan hanya menjadi lambang di langit tinggi

rangkul setiap luka yang belum sembuh

hingga tak ada lagi air mata di ujungmu

biarlah mata air mengalir terus di ribuan sungai nusantara

dan Indonesia benar-benar menjadi rumah bagi seluruh rakyatnya


Tanjung, 31 Juli 2026


Ada luka dan harapan tersirat dalam puisi dengan bahasa yang lugas ini agar bangsa Indonesia lebih tertata perekonomiannya dan meningkat kesejahteraan rakyatnya. 

Apa puisi lain dari sastrawan ini ? Ada sebuah buku Antologi dipersiapkan. Tunggu terbitnya : RANUMGAIB.




BERITA DAERAH

MEDIA PERWIRA NEWS VIDEO

NASIONAL

EKONOMI BISNIS