BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH, BIKIN PUISI BERBAHASA DAYAK BAKUMPAI, FITRI SEIGETAS PERJUANGKAN BUDAYA DAERAH LESTARI

 

Fitri Seig, pegiat seni budaya Bakumpai Barito Kuala Kalsel

Bakumpai, Barito Kuala

Ada banyak cara anak bangsa untuk berkarya. Satu di antaranya lewat dunia seni

Di Sei Getas, desa yang ada di kawasan pinggir air sungai Barito ada para pejuang pelestari seni seni budaya daerah, termasuk Fitri.

Di dunia panggung ia tak segan perkenalkan diri dengan nama Fitri Sei Getas atau Fitri Seig.

Sejatinya dia adalah penari topeng, tapi di bagian ini karyanya di bidang Sastra, Puisi yang mediaperwira.com hadirkan

Bagaimana Puisi dan maknanya ? Ini dia.


Fitri SeiG


DANUM MATE MAMBUNGKUK SI NISAN AKSARA


Danum mate mambungkuk si pain musim ji bapela

Manyium nisan-nisan aksara ji takubur huang petak pusaka


Huruf-huruf balayu hantarawang ingkinan dabu

Kitab-kitab batuh gageter si lamari buku

Kilau uluh bakas ji ida ingat dengan ensu


Danum mate mambungkuk sasar handalem

Manabur doa si kubur-kubur kata


Danum mate mambungkuk

Manggau huma si baun sanja

Maharap iyei hampuli dengan taharu ji banyala

Tapi dunia jadi kanihauan sastra

Kilau langit ji ida baisi cahaya

Bakumpai//10 Juli 2025


Puisi ini menurut Fitri Sei Getas kalau diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu “Air Mata Membungkuk di Nisan Aksara. Puisi ini pernah Fitri bacakan saat perayaan hari Puisi 2026 di halaman Panggung Rampa Taman Budaya kalimantan Selatan.

Adapun deskripsi dari puisi ini menggambarkan kesedihan yang tak terbendung atas hilangnya sebuah kata, bahasa, atau tulisan yang tidak mampu dilestarikan.

Kehilangan itu bukan sekadar hilangnya rangkaian huruf atau bunyi, melainkan lenyapnya bagian dari ingatan dan warisan yang pernah membentuk kehidupan suatu masyarakat. 


Ketika sebuah bahasa perlahan ditinggalkan dan akhirnya tidak lagi diwariskan, maka ikut terkikis pula identitas yang terkandung di dalamnya. Kata-kata yang dahulu menjadi penanda siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita mengenali dunia, perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing. 


 Kehilangan itu bukan sekedar hilangnya rangkaian huruf atau bunyi, melainkan hilangnya bagian dari ingatan dan warisan yang pernah membentuk kehidupan suatu masyarakat. Ketika sebuah bahasa perlahan ditinggalkan dan akhirnya tidak lagi diwariskan, maka ikut terkikis pula identitas yang terkandung di dalamnya. 

Kata-kata yang dahulu menjadi penanda siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita mengenali dunia, perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa ada bagian dari diri dan kebudayaan yang pernah hidup melalui bahasa, tetapi kini sulit lagi untuk dimiliki dan dikenal. 

Oleh karena itu, air mata yang membungkuk di nisan aksara menjadi simbol penghormatan sekaligus duka terhadap sebuah identitas yang sedang menuju kehilangan.

" Di Negara kita Indonesia ini banyak bahasa asli, bahasa suku suku, dan beberapa terancam punah ini jadi keprihatinan saya, salah satu cara melestarikannya insya allah lewat sastra, puisi ," ujar Fitri

Menurut Fitri sebagai putri dari suku Bakumpai seharusnya sudah melestarikan budaya Bakumpai yang kian hari keberadaannya makin terhimpit oleh budaya lain. 

Oleh karena itu jiwanya terpanggil untuk menggaungkan Bahasa Bakumpai tidak hanya melalui bahasa sehari-hari tetapi juga melalui karya-karya sastra. 




BERITA DAERAH

MEDIA PERWIRA NEWS VIDEO

NASIONAL

EKONOMI BISNIS