MIMBAR SASTRA ! ADA NOVEL LUAR BIASA, BERKISAH TENTANG JIWA RELAWAN ! SANG SAHAYAKA, MANUSIA HUJAN


MIMBAR SASTRA ! ADA NOVEL LUAR BIASA, BERKISAH TENTANG JIWA RELAWAN ! SANG SAHAYAKA, MANUSIA HUJAN

Terjadinya bencana menumbuhkan jiwa sosial, semangat menolong yang lebih kuat pada sejumlah orang. 

Beragam persoalan hidup, tak menghentikan jiwa dan gerak mereka sebagai penolong, relawan. 

Naidee, wanita cerdas berdarah Dayak-Banjar yang suka menganalisis dan berbicara sejarah atau legenda Dayak, Nansarunai melawan serangan Majapahit yang turun temurun dikisahkan mulut ke mulut oleh orang Dayak menuangkannya di Novel ini

Manusia Hujan

Manusia Hujan muntah, saat menukilkan kepahitan hidup diatas bara api dan rejamannya bila membara, atau lolongan ombak saat membantu korban tsunami.

Entahlah, fragmen demi fragmen dilewati, namun tak jelas pangkal dan ujungnya. Sehingga hanya akal budi dan tindakan yang dapat menampar kegetiran dan kesedihan akan dunia ring of fire yang ada di Seluruh Indonesia.

Terasa sudah akan bahayanya, tapi terus saja berulang-ulang setiap tahun, seakan buku tua yang tak pernah pudar, namun semakin tua untuk dibaca, akankah jadi pengetahuan?

Manusia hujan adalah si relawan bencana yang terus berada dilokasi bencana, yang tak lekang oleh waktu dan terus bergerak. Tergambar jiwa pada-jiwa yang kokoh seperti pada Maluca, Setia dan Jamblah dan Imseera, yang mensedekahkan dirinya untuk kebencanaan.

Apakah mereka sangat ambisius? Tentu saja, karena seseorang yang tidak serius mengontrol dirinya, maka tidak akan menuai hasil dan ketetapan Ilahi akan setiap garis nasib. Hanya peruntungan yang membuat mereka bertemu di sebuah Kantor Kebencanaan, dan akhirnya mendewasakan mereka, pada tugas yang terus datang bertubi-tubi. Pada aura semerbak, Maluca si anak Wali Kota, Setia seorang pencari kerja, atau Jamblah si pendakwah genre penyalamat dan Imseera seorang Dokter ahli. Atau kisah cinta para muda-mudi, yang mengharukan biru, serta kisah perjuangan hidup untuk menjadi sang Sahayaka. 

Atau pada kisah penyelamatan tsunami di Aceh (2004) dan Karhutla di Banjarbaru, Kalsel (2015-2017), yang membuat ingatan waktu terus mengiringi setiap langkah lawan.

Saat Smong di Aceh, mendekan peringatan pada udara yang naik dan menarik semua ke laut, hingga kegagahan “pasukan udara dan tanah” tak sanggup dilawan, kecualinya hanya melihat dampaknya, yaitu 250 ribu orang meninggal juga alam semestamakhluk.

Atau setiap warta “pasukan api dan angin” yang sudah membakar lahan jutaan hektar, makhluk lain terjebak api dan asap di Kalimantan dan Sumatera. Semuanya hanya samsara api tanpa udara, atau angin tanpa tanah. Tak ada yang tersisa.

Pada akhirnya, bila seorang pluviophile atau penyuka hujan, gadis multitasking, pendakwah dan Dokter ahli beradu keahlian di lapang dan menemukan mukzijat pada setiap langkahnya, maka akan terjadi kesamaan gagasan: “bahwa selama masih ada sang evaluasi, penyelamat bencana dan pemenang bermental, maka negeri ini akan selalu kokoh berdiri, sumpah Sang Sahayaka .”


 

BERITA DAERAH

MEDIA PERWIRA NEWS VIDEO

NASIONAL

EKONOMI BISNIS