MIMBAR PUISI ! SATU PUISI KARYA DUA PENYAIR,? MUSIM LUKA DI BIBIR JINGGA
MIMBAR PUISI ! SATU PUISI KARYA DUA PENYAIR,? MUSIM LUKA DI BIBIR JINGGA
MUSIM LUKA DI BIBIR JINGGA
Jingga yang menyimpan musim di kelopak sunyi
Tak bersuara namun harumnya diam-diam menaklukkan hati
Langit menumpahkan jingga yang malu-malu
Terlipat dalam kabut yang enggan pergi
Bukan senja yang terbakar
Tapi harapan yang tertahan di ujung hari
Kini jingga tenggelam bukan oleh malam
Melainkan oleh lautan asap yang perlahan menelan matahari
Dan di sela kabut itu jingga berbisik pelan
Bahwa gelap tak akan menang selamanya
Karena walau samar cahaya tetap memilih
Untuk menetap menunggu waktu untuk nyata
Jingga akan kembali
Ia akan tumpah seperti madu di bibir petang
Menyulam emas pada awan Mengembalikan matahari dari pengasingan
Maka biarkan angin meniup kabut itu pergi
Biarkan waktu mencuci langit dengan sabar
Sebab setiap musim punya janji untuk pulang
Dan jingga... adalah bukti bahwa luka bumi pun bisa sembuh
Di antara desir daun dan doa yang tertahan
Jingga akan duduk lagi di pelupuk mata kita
Bukan sebagai kenangan
Tapi sebagai rumah
Tempat kita belajar percaya
Bahwa setelah pekat cahaya selalu punya nama
Jingga selalu tahu cara mengembalikan yang karam Menjahit jarak dengan benang cahaya
Hingga kelak yang jauh menjadi dekat dan yang hilang pulang
bersama jingga yang tersenyum
Tanjung-Bakumpai//penghujung Agustus 2026
