MIMBAR PUISI! LUMPUR DI KAKI BARITO, TURI MEMBACA SUARA KERINDUAN BUMI PADA HUJAN
MIMBAR PUISI! LUMPUR DI KAKI BARITO, TURI MEMBACA SUARA KERINDUAN BUMI PADA HUJAN
Turi Sugih dengan nama lengkap Muhammad Turiansyah, S.Pd.I, M.Pd. Alumnus Magister UIN Antasari ini merupakan pendidik di SDN Sungai Kambat Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala. Selain seorang sastrawan, ia juga merupakan salah satu tokoh agama di Kabupaten Barito Kuala.Baginya puisi adalah “ruang segala rasa bertemu, tempat di mana sesuatu yang tidak bisa kita katakan langsung akhirnya menemukan jembatannya.”
Puisi “Lumpur di Kaki Barito” yang ia tulis merupakan elegi tentang sungai yang kehilangan riaknya. Gusung, lumpur, dan jukung yang terdiam menjadi metafora kekeringan sekaligus kerinduan. Sepasang rangkong menanti air mata langit menjadi simbol harapan agar hujan kembali menghidupkan nadi Barito dan mengembalikan lenggang jukung.
Bagaimana Puisi Turi itu? Ini dia
Turi Sugih
LUMPUR DI KAKI BARITO
sepasang Rangkong menanti rindu
menatap wajah Barito
ternyata gusung masih lama bertamu
setiap kali aku mengetuk pintu
Jawabnya masih seperti kemarin
'aku masih betah
di tewang Barito'
wajahnya kering
terbakar matahari yang tak kunjung redup
perahu berdiam
seakan menjadi saksi
lumpur dan batu bercumbu mesra
ibu-ibu mengaih namamu di sisa genangan
yang perlahan menghilang dari tapak kaki
sepasang rangkong masih menanti
barangkali air mata langit segera datang
membasuh lumpur dan batu
mengembalikan lenggang jukung
mengubur gusung Barito
Marabahan,18 September 2026
