MIMBAR PUISI! YANG BERNAPAS DIRUANG BERASAP, GUSTI ADRIANSYAH INGATKAN KELALAIAN PENGHUNI BUMI
MIMBAR PUISI! YANG BERNAPAS DIRUANG BERASAP, GUSTI ADRIANSYAH INGATKAN KELALAIAN PENGHUNI BUMI
Banjarmasin, Kalsel
Penyair dari Kalimantan Selatan ini sudah lama makan asam garam kehidupan seni utamanya sastra.
Ia pun, punya kecintaan tinggi pada perkembangan Sastra Banua ( sebutan khas untuk Pulau Kalimantan pada masyarakat Banjar).
Ini nampak dalam karyanya yang memadukan bahasa Nasional dan bahasa lokal atau daerah.
Menyoroti persoalan karhutla itu Adriansah tuangkan dalam karya puisinya yang gunakan bahasa banjar di beberapa bagiannya.
Bagaimana puisi Gusti Adriansyah itu? Ini dia
Yang Bernapas di Ruang Berasap
Musim di bumi negeri terus berganti
Setelah hujan badai lalu panas terik menggantang
Setelah banjir air melimpah limpas
Lalu kering kerontang terentang
Hutan ladang gambut terbakar mengoyak kulit bumi
Berasap pekat mengikat oksigen bebas
Haruan melompat, sepat menggelepar , pepuyu mendiam dilumpur pekat
Terjerang bagai dalam panci masak
Ikan ikan tak menolak nasib jadi tangkapan petani kampung
Keluhan hanya terdengar pada orang orang; aku sesak napas; aku perih mata; asmaku kumat
Udara memang hak bersama untuk bebas lepas menghirup oksigen bebas
Tetapi musim menegur ingatkan kelalaian penghuni bumi
Hati-hati dengan lingkungan hidup, hutan gambut dan sungai dangkal
Disitu orang turut menumpang hidup sebagai makhluk
Ketika pencemaran udara bertabur asap
Ketika sungai sungai mengering mengurang air ledeng
Bahwa kehidupan pada dua musim yang bergantian mesti dalam kearifan.
#GTAdraft
