GAUNGKAN LAUNG PENUTUP KEPALA KHAS BANJAR HINGGA KE MANCA NEGARA, MASDAR HIDAYAT TERUS LUASKAN TRADISI BERBUSANA BANJAR


GAUNGKAN LAUNG PENUTUP KEPALA KHAS BANJAR HINGGA KE MANCA NEGARA, MASDAR HIDAYAT HARAP PEMERINTAH TERUS LUASKAN TRADISI BERBUSANA BANJAR


Banjarmasin, Kalsel

Kekayaan bangsa Indonesia tersebar di seluruh Nusantara termasuk di Kalimantan atau Borneo. 

Di wilayah Kalimantan Selatan saja misalnya, dari sektor seni dan budaya juga tradisi, sangat banyak warisan leluhur yang ada.

Satu diantaranya adalah dalam hal tata busana atau berpakaian. Seperti penggunaan penutup kepala pada orang Banjar, yang disebut dengan  nama Laung.

Kendati miliki penutup kepala khas, Laung, penggunaannya pada masyarakat Banjar sangat jarang.

Bukan tanpa sebab, ini lantaran Laung diyakini sebagai pakaian yang bukan hanya Khas kedaerahan atau suku, tapi karena merupakan bagian dari pakaian kalangan tertentu, khususnya kalangan istana, Raja, Bangsawan, Prajurit, saudagar atau ulama sesuai jenisnya.

Masyarakat umum di era kini, mengenakannya lebih karena momentum sebuah acara, seperti pada pesta perkawinan, perayaan hari-hari besar Daerah seperti hari jadi sebuah provinsi atau kabupaten dan ajang pariwisata seperti pemilihan Nanang Galuh Banjar.

Pembuat Laung juga tidak banyak, beberapa membuatnya berdasar meniru bentuk yang biasa terlihat dan mengkreasikannya sendiri. 

Hal ini menarik keprihatinan seorang seniman Banjar, Masdar Hidayat. Sebagian orang mengenalnya sebagai musisi panting. Mulai dari memainkan panting hingga memproduksinya.



Dengan jemarinya yang terampil dan jiwa seninya, ia pun mulai membuat Laung. 

Masdar mengatakan, pada dasarnya Laung yang ia buat adalah berdasar warisan keluarga.

Harapannya agar penutup khas bangsa Banjar ini tidak punah, asing dari generasi penerus di tengah hantaman busana-busana trend jaman kini.

Niat baiknya bersambut, seiring imbauan pemerintah terkait pelestarian budaya termasuk penggunaan pakaian daerah. Berdirinya sejumlah organisasi masyarakat kedaerahan juga kian mendukung.

Kini Laung termasuk produksi Masdar Hidayat menjadi lebih memperluas pengetahuan masyarakat tentang pakaian khas Banjar. Satu diantara produksi Masdar Hidayat adalah Laung yang dikenakan ormas kedaerahan Laung Kuning Banjar.



Masdar menegaskan Laung bagi masyarakat Banjar bukan sekadar penutup kepala, melainkan memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan kehormatan, identitas, dan nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

" Laung bukan hanya pelengkap busana adat, tetapi juga simbol penghormatan terhadap diri sendiri dan budaya Banjar," Ujar Masdar.

Masdar menambahkan, budaya ini tidak lahir secara instan, tetapi diwariskan oleh nenek moyang dengan nilai yang harus terus dikembangkan dan dilestarikan. 

" Laung adalah mahkota bagi laki-laki Banjar, simbol kehormatan dan adab,” ucap Masdar.

Ada beragam jenis Laung Banjar, di antaranya Laung Tanjak, Laung Damang dan Laung Raja. Bukan asal bentuk dan buat, ada sejumlah makna pada Laung dan menjadi lambang atau simbol eratnya Banjar dengan keyakinan Islam.


Dukungan pemerintah tentu sangat berperan penting dalam pelestarian budaya, baik dengan penggunaan pakaian daerah di setiap acara seremonial di lingkup pemerintahan, bahkan pemakaian Laung dalam berbagai kegiatan secara rutin.

BERITA DAERAH

MEDIA PERWIRA NEWS VIDEO

NASIONAL

EKONOMI BISNIS