RIYAN PEMUDA ASAL BANUA SABET MEDALI EMAS! MENANGI AJANG TISIIF 2026 THAILAND LEWAT PEMANIS ALAMI NOL KALORI

RIYAN PEMUDA ASAL BANUA SABET MEDALI EMAS! MENANGI AJANG TISIIF 2026 THAILAND LEWAT PEMANIS ALAMI NOL KALORI

Yogyakarta, DIY

Pemuda asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Riyan Firnanda, kembali menerima penghargaan internasional setelah sebelumnya sukses mengikuti konferensi internasional di Melaka, Malaysia pada 28-30 April 2026 lalu. 

Mahasiswa penerima beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kini tengah menempuh studi Magister Biologi di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) ini sukses menyabet medali emas (Gold Medal) pada ajang penelitian berskala internasional yakni Thailand International Science, Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026. 

Kompetisi inovasi ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan mitra internasional di Thailand tersebut berlangsung secara blended/hybrid pada 20 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Ajang ini mempertemukan total 117 tim inovator dari 7 negara, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Kazakhstan, Meksiko, Turkmenistan, dan Hong Kong. 

Para peserta saling menyampaikan gagasan dengan menampilkan karya-karya unggulan di bidang sains, teknologi, kesehatan, dan pertanian.

Bersama rekan-rekannya di UGM—Sri Garcinia Lathifah (Magister Biologi), Aviesta Linggabuwana (Magister Bioteknologi) dan Jefri Saputro (Magister Bioteknologi) di bawah bimbingan Prof. Endang Semiarti, MS, M.Sc.—Riyan mengusung karya inovatif bertajuk "Miracle Potato: A Transgenic Potato Biofactory for Sustainable Miraculin Production as a Next-Generation Low-Calorie Sweetener". 

Gagasan pertukaran ini berangkat dari keresahan penumpukan terhadap tingginya beban penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan obesitas akibat konsumsi gula berlebih. 

Alih-alih sekadar mencari pengganti gula sintetis biasa, tim Riyan mengembangkan varian pemanis alami rendah kalori berbasis molekuler pertanian. 

Mereka memanfaatkan buah kentang (potato berry) bagian tanaman kentang di atas tanah yang selama ini hanya menjadi limbah pertanian terabaikan dan beracun jika dikonsumsi langsung, untuk disulap menjadi pabrik hayati (biofactory nabati). 

Melalui rekayasa genetika ekspresi gen MIR, jaringan buah kentang dipacu memproduksi protein rekombinan mirakulin secara melimpah dan stabil. 

Keunggulan utama Miracle Potato terletak pada cara kerjanya yang unik dan aman bagi metabolisme tubuh.

Protein mirakulin mampu memodifikasi persepsi rasa di lidah dengan mengubah rasa asam menjadi manis alami saat bertemu suasana asam di mulut melalui ikatan reseptor TAS1R2/TAS1R3, tanpa menaikkan kadar gula darah dan tanpa mengurangi kalori. 

Setelah diekstraksi dan dimurnikan agar bebas dari senyawa glikoalkaloid berbahaya, produk ini diformulasikan menjadi tablet hisap (pelega tenggorokan) yang praktis dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun masyarakat yang tengah menjalani diet rendah gula. 

Bagi dunia pendidikan dan sains, penelitian ini membuktikan bahwa rekayasa bioteknologi tanaman mampu membuka ruang eksplorasi tanpa batas bagi ilmuwan muda untuk memecahkan permasalahan ketahanan pangan dan kesehatan. 

Sementara bagi masyarakat luas dan sektor pertanian, inovasi ini mengusung prinsip ekonomi sirkular (circular bioeconomy) bernilai tambah tinggi, yakni menyulap limbah samping pertanian menjadi produk fungsional pengganti tanpa mengganggu komoditas umbi kentang yang menjadi rantai pasok pangan utama. 

Menangapi keberhasilannya membawa pulang medali emas bagi tanah air dan Banua tercinta, Muhammad Riyan Firnanda mengaku sangat bersyukur atas pencapaian ini.

"Alhamdulillah, sebuah kebanggaan tersendiri bagi ulun sebagai anak rantau Banua asal Banjarbaru kawa bersaing di panggung sains internasional TISIIF 2026. Riset Miracle Potato ini kami rancang bukan sekadar gasan mangajar juara lomba haja, tapi bujur-bujur diikhtiarkan jadi solusi konkret gasan kawan-kawan penderita diabetes wan masyarakat luas nanti, supaya tetap kawa marasai manis nang sehat tanpa kalori. Ulun jua handak mambuktiakan bahwa anak daerah matan Banua gin baisi potensi, ilmu, wan kesempatan nang sama gasan basaing di level dunia. Mudah-mudahan capaian ini kawa manjadi motivasi gasan ading-ading wan pemuda Banua lainnya gasan tatap sumangat manuntut ilmu, bakarya, wan kada supan bakompetisi mambawa harum banua kita di pentas internasional." ujar Riyan.

Prestasi yang diraih Riyan bersama tim tidak hanya menjadi kebanggaan civitas akademika UGM dan Kalimantan Selatan, namun juga berkontribusi nyata dalam mendukung target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dunia, khususnya SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab.


BERITA DAERAH

MEDIA PERWIRA NEWS VIDEO

NASIONAL

EKONOMI BISNIS