MIMBAR PUISI ! DURJANA SINGGASANA ! DARNO KRITIK PERILAKU KORUP ELIT DAN PEJABAT
MIMBAR PUISI ! DURJANA SINGGASANA ! DARNO KRITIK PERILAKU KORUP ELIT DAN PEJABAT
Banjarmasin, Kalsel
Darno, pria Jogja yang dalam senyapnya terus menjaga jiwa seni. Terpantik melihat luka bangsa dan negara akibat ulah serakah elit-elit dan pejabat.
Di tengah upaya memberantas dan tegakkan hukum serta keadilan, tindakan para penghisap darah negara itu jadi borok negeri, nyaris hilangkan kepercayaan publik pada negara.
Darno kritik ulah itu lewat puisinya. Bagaimana puisi itu? Ini dia
*DURJANA SINGGASANA*
Lihat negeri ini,
Dipahat bertatakan emas, digerogoti para rayap berdasi,
Korupsi bukanlah rahasia lagi,
Mereka duduk dalam ruang sejuk
di atas kursi yang berayun genggam,
sambil merangkai pesona untaian hukum,
Hingga terbahak saling berbagi nikmat kue dari ukiran indah nampan rakyat,
Pajak,
seutas cambuk formal penguasa
dikais dari warung-warung redup
yang sunyi dan reyot,
Dari sopir yang terendap lelah beralaskan kemudi,
Dari seorang ibu renta dan melarat yang hanya meraup onggokan seperempat kilo beras,
Hingga uang menguap,
Menjelma mobil baru, jam tangan baru, dan kavlingan baru,
Yang namanya bukan milikmu,
Dengan tanpa berkelu bersuara lantang "Demi Rakyat, kami Pembela Wong Cilik",
Padahal rakyat hanya sekedar slogan usang dari spanduk meradang robek
yang dipaksa untuk kencang membentang,
Sambil berseru atas nama "Pembangunan",
Sebuah Kebanggaan Megah, yang hanya sekedar istana bual dan dusta,
Becek jalanan tuk kembali jadi luka yang meradang,
Yang ditelan obat oleh dokternya sendiri,
Sementara pasiennya dibiarkan terpagut menggigil di pojok emperan,
Maling dipanggil "Bapak", Penjahat dipanggil "Yang Terhormat"
Orang jujur disuruh antri, disuruh sabar, dan pasrah,
Mati pelan-pelan,
Betapa murahnya harga keadilan di sini,
Meranggas,
Dibujuk, dibeli, dan dijual, lalu dibungkus rapi oleh indahnya rangkaian pasal dan ayat hasil hubungan gelap kolaborasi yang tak jelas usul dalilnya.
Betapa mahalnya arti kejujuran,
Sampai rakyat harus membayarnya dengan rintihan perut yang meronta dan tangan yang pedih terkoyak.
KONOHA ohh KONOHA,
Mencintaimu bagai mencintai rumah yang disenonohi,
Marah karena tiap hari ada yang mencuri perabot indahnya
Sementara tuan rumahnya pura-pura tidur
Bangunlah!!!
Sebelum semua penyangga itu lapuk,
Sebelum anak cucu mewarisi puing puing utang yang kerontang. ( Darno, Jogja 2026)
